Sunday , 10 May 2026

16 Gunung Api Sulawesi-Maluku Dipantau 24 Jam, Kepala Balai: Rekomendasi Tak Boleh Terlambat

Manado, Spiritkawanuanews || 16 Gunung Api dan Gerakan tanah/longsor di Wilayah Sulawesi-Maluku dipantau ketat 24 jam oleh Balai Pemantauan Gunung Api dan Mitigasi Bencana Gerakan Tanah Sulawesi-Maluku.

Kepala Balai Pemantauan Gunung Api dan Mitigasi Bencana Gerakan Tanah Sulawesi-Maluku, Debby Rumambi punya tugas vital melakukan pemantauan 16 gunung api aktif di wilayahnya, mulai dari Awu, Karangetang, Ruang, Tangkoko, Lokon, Mahawu, Soputan, Ambang, Colo, Gamalama, Kie Besi, Gamkonora, Ibu, Dukono, Banda Api dan Wurlali. Data kegempaan, deformasi, geokimia, hingga gas vulkanik dianalisis setiap hari untuk menentukan tingkat aktivitas: Normal, Waspada, Siaga, atau Awas.

“Begitu ada peningkatan aktivitas, kami wajib secara cepat menyampaikan laporan ke PVMBG Bandung untuk dievaluasi untuk perlu tidaknya peningkatan status atau perubahan rekomendasi teknis sebagai langkah mitigasi. Selain itu Balai mempunyai tugas melaksanakan koordinasi dengan stakeholder yaitu Pemerintah Daerah, masyarakat dan media. Rekomendasi harus disampaikan secara cepat dan tepat terlambat,” kata Rumambi, Kepala Balai PGAMBGT Sulawesi-Maluku, Selasa (21/04/26).

BACA JUGA  Gubernur Bakal Hadirkan Energi Baru untuk Nusa Utara, YSK: Saya Mau Listrik 24 Jam di Sana

Tak hanya gunung api, Balai ini juga melakukan upaya mitigasi pada daerah yang berpotensi terjadinya/rawan bencana gerakan tanah/longsor. Hasilnya jadi dasar penyusunan peta KRB (Kawasan Rawan Bencana) untuk tata ruang, jalur evakuasi, hingga rekomendasi relokasi warga di zona bahaya.

Saat kondisi darurat, Kepala Balai langsung memimpin tim Tanggap Darurat dan berkoordinasi dengan BPBD, TNI/Polri, BMKG, serta Pemda. Ia juga bertindak sebagai juru bicara resmi ke media dan masyarakat. “Intinya kami penjaga gawang. Data harus akurat, rekomendasi harus cepat, tujuannya warga selamat,” tegasnya.

Selain teknis, balai ini rutin melakukan desiminasi informasi /sosialisasi mitigasi bencana geologi ke Pemerintah Daerah, sekolah dan masyarakat di daerah rawan, sekaligus membina pos-pos pengamat gunung api yang tersebar di Sulawesi dan Maluku. (Maikel.P)

Loading

Leave a Reply

Your email address will not be published.